Minggu, 03 Juli 2016

Ramadhan di Pedalaman Gorontalo (Pinogu)

Tak terasa, dalam hitungan beberapa jam Ramadhan 1437H akan segera berakhir. Tak terasa pula bahwa kejombloan ini belum juga berakhir (Apasih, abaikan wkwk). Ada banyak kisah di Ramadhan ini yang hendak aku bagi. Namun pesan whatsapp di group KKN membuatku memutuskan menulis kisah ini. Sebuah momen ramadhan yang baru pertama kali aku alami, di sebuah tempat di pedalaman Gorontalo, mereka menyebutnya PINOGU.


Pinogu adalah sebuah kecamatan di pedalaman Gorontalo, tepatnya di tengah kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Kabupaten Bone Bolango. Juli 2013, akses menuju Pinogu masih sangat butuh perjuangan. Kecamatan Pinogu hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau dengan menggunakan ojek dengan ongkos 500rb sekali jalan. Karena ingin mencoba tantangan baru (sebenernya karena keterbatasan dana) untuk menuju Pinogu kami memutuskan untuk Hiking (berjalan kaki). Waktu tempuh dari starting poin Kecamatan Suwawa Timur menuju Kecamatan Pinogu dengan berjalan kaki normalnya adalah 8-12 jam. Namun sebagai pemula beberapa orang diantara kami baru dapat mencapai pinogu setelah 16 Jam (07.30 – 23.30) itupun melalui berbagai insiden seperti kram, tertahan di tengah hutan, kehabisan air minum dll.

Misi kami bersusah-susah datang ke Pinogu adalah dalam rangka Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama kurang lebih 2 bulan lamanya. Kedatangan kami saat itu hanya beberapa hari sebelum Ramadhan sehingga otomatis kami harus menjalani Full Ramadhan sekaligus lebaran di lokasi KKN, sebuah keadaan yang awalnya tidak sempat saya bayangkan.

Memulai Ramadhan di Dataran Hijau
                Tidak ada persiapan yang ribet menjalani Ramadhan di tempat ini. Sebelum Ramadhan kami hanya berkumpul di kantor kecamatan untuk membahas program KKN dan Ramadhan di masing-masing desa sekaligus berkoordinasi dengan Pemerintah setempat dan rekan-rekan IP2MP (Ikatan Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Pinogu).

                Seusai mendapat kepastian hari dimulainya Ramadhan, seperti biasa masyarakat berkumpul memadati Masjid untuk persiapan shalat Tarawih. Uniknya jika di daerah lain umumnya setelah shalat Isya langsung dilanjutkan dengan ceramah ataupun shalat tarawih, namun di masjid Darussalam desa Dataran Hijau justru terlebih dahulu diadakan musyawarah bersama. Musyawarah ini untuk menentukan berapa jumlah rakaat shalat tarawih (11-23), dan bagaimana mekanisme shalat witir dikerjakan (2 + 1 atau langsung 3 rakaat). Setelah mendapat kesepakatan, selanjutnya adalah menentukan kapan waktu sholat untuk memudahkan masyarakat merencanakan kegiatan. Waktu sholat disini maksudnya adalah waktu sholat isya & tarawih. Disinilah keseruannya karena baru pertama kali saya menyaksikan sidang itsbat penentuan awal sholat. Sebagaian bapak-bapak awalnya ada yang mengusulkan memulai sholat pukul 19.15 WITA namun dari kalangan ibu-ibu kurang setuju karena masih repot membereskan hidangan buka puasa dan lainnya. Setelah saling mengemukakan pendapat akhirnya disepakatilah waktu pelaksanaan sholat isya dan tarawih di masjid ini pada pukul 19.30 WITA

Hidangan Sahur penuh berkah
                Untuk memulai hari pertama Ramadhan, biasanya orang-orang sudah sejak sore sibuk mempersiapkan hidangan sahur pertama. Namun bagi kami yang hidup di pelosok daerah, dapat makan sahur dengan kenyang saja adalah sebuah kesyukuran. Sahur hari pertama hanya kami lalui dengan menikmati Nasi jagung, abon + sambal dan air putih. Sebenernya kami masih punya stok mie instan dan makanan lain (ikan asin), namun kami harus berhitung untuk persiapan selama 2 bulan kedepan.
                Sedih, dan sedih banget rasanya menikmati sahur pertama dengan keadaan seperti ini. Namun ternyata keberkahan sahur itu bukan pada selezat apa hidangannya, namun seberapa besar kesyukuran kita. Meskipun hampir setiap hari hanya makan sahur dengan makan nasi jagung + abon, sambal, mie instan dan kadang-kadang sayur gedi dan paku-pakuan alhamdulillah kami semua diberi kekuatan untuk terus berpuasa Full sampai lebaran.

Bedug magrib pertama dan garam dapur
                Puasa Hari pertama akhirnya dapat juga kami tuntaskan dengan lancar hingga datang waktu berbuka. Tak ada sirup, tak ada es teh apalagi es buah. Hidangan pembuka berbuka puasa (ta’jil) yang tersaji di meja adalah kopi, pisang goreng, sambal dan garam.

                Bagi kami orang-orang jawa, agak heran mengapa ada sambal di samping pisang goreng dan ada pula garam di piring kecil. Selepas bedug magrib bergema langsung saja kami menyeruput kopi. Kami yang keheranan ada pisang goreng, sambal dan garam kemudian mengambil pisang goreng dan mencocolnya dengan garam dan membiarkan sambal tanpa tersentuh tangan.

Berbukalah dengan yang masam
                Hari kedua ramadhan, kami berbuka puasa di masjid Darussalam (Dataran Hijau). disanalah kami baru mendapat jawaban mengapa ada garam, sambal dan pisang goreng. Ternyata masyarakat disana mempunyai tradisi unik untuk berbuka puasa. Yakni sebelum memakan apapun terlebih dahulu mereka akan mengambil sedikit garam untuk sekedar ditempelkan di lidah. Setelah itu barulah mereka mengambil minuman dan atau makanan lainnya. Sementara itu, adanya sambal di samping pisang goreng adalah sebuah kelaziman di daerah sulawesi dimana mereka biasanya memakan pisang goreng dengan sambal.

                Selain tradisi mencicip garam, di Pinogu juga selalu dihidangkan bubur masam di setiap kesempatan buka bersama. Bubur ini dibuat dari beras dicampur santan. Namun jangan bayangkan rasanya adalah asam/kecut. Bubur masam sendiri mempunyai rasa gurih dan asin. Usut punya usut ternyata di daaerah ini istilah “asin” biasa dikenal dengan “masam”

Tadarus keliling, Buras dan Kustar
                Tradisi unik lain Ramadhan di Pinogu adalah  Tadarus keliling. Jika di daerah lain tadarus biasanya dilakukan bersama-sama di masjid setelah tarawih, namun di Pinogu Tadarus dilakukan secara bergilir di tiap rumah penduduk. Pada saat suatu rumah mendapat giliran, maka pemilik rumah akan mempersiapkan diri dengan menghidupkan genset, menyalakan sound system dan menyediakan berbagai macam makanan untuk orang-orang yang tadarus. Makanan yang menjadi hidangan wajib biasanya adalah buras, dan kustar (makanan ini umum ditemukan di daerah sulawesi), sedangkan hidangan khas Gorontalo yang bisanya tersaji adalah milu siram dan ilabulo. serta tidak ketinggalan tentunya ditemani mantapnya kopi pinogu.

                Bagi yang belum tahu, buras adalah sejenis lontong/arem-arem yang terbuat dari beras dan santan dan dinikmati dengan sambal santan kental. Sedangkan kustar adalah sejenis puding yang dibuat dari tepung custard + irisan jagung manis. Sementara milu siram adalah jagung dan ikan/ayam yang disiram dengan santan + ampasnya. Sedangkan ilabulo adalah makanan dari tepung singkong (tapioka) dicampur dengan daging ayam.

Puting Beliung buka bersama.
                Selain buka bersama di masjid, biasanya kami mendapat undangan buka puasa bersama di rumah warga. Buka puasa pertama adalah di rumah pak mantri. Beliau adalah petugas kesehatan yang ditugaskan di puskesmas pinogu sebelum diangkat sebagai PNS. Dua orang tenaga kesehatan ini berasal dari Solo, meskipun sudah menjadi dokter umumnya masyarakat memanggil mereka sebagai pak mantri.

                Sore itu kami mendapat undangan buka puasa di kediaman beliau berdua. meskipun salah satu dari mereka adalah nasrani, mereka mengundang kami untuk berbuka puasa sekaligus sebagai silaturahmi antar perantau. Di kediaman pak mantri yang kebetulan baru kembali dari kota inilah, untuk pertama kalinya setelah berhari-hari kami menjumpai makanan jawa seperti tahu, tempe dan sayur bening. Keinginan kami untuk menikmati hidangan itu serasa tak terbendung. Dengan hitungan beberapa detik hampir semua masakan di meja habis kami sikat seperti layaknya angin puting beliung menyikat habis jalur yang dilauluinya. Pak mantri hanya terseyum melihat tingkah kita yang seperti orang kelaparan berbulan-bulan. Sementara kita hanya menertawakan tingkah konyol diri kita yang serasa baru saja mendapat hidangan surga.

Tumbilotohe, Gemerlap cahaya di kecamatan tanpa listrik
                Pada tahun 2013, kecamatan Pinogu masih belum teraliri listrik PLN. Listrik genset hanya ada di kantor kecamatan atau rumah orang-orang berada. Sementara mayoritas lainnya hanya mengandalkan 2 boah bola lampu dari panel surya Solar Home System (SHS) yang beberapa bahkan sudah mulai rusak. Beruntung di kecamatan ini kabarnya sekarang sudah dimulai proyek listrik tenaga surya secara terpusat.

                Menjelang 3 Hari terakhir bulan Ramadhan, terlihat pemandangan sibuk di sepanjang jalan. Masyarakat mempersiapkan pernak pernik (kaliusu) untuk mempatkan lentera di sepanjang jalan. Tidak lorong ada jalan yang luput dari penerangan lentera ini. Pada malam 3 hari terakhir bulan Ramadhan, lentera dinyalakan dari magrib hingga menjelang shubuh. Tradisi ini dinamakan Tumbilotohe

                Menurut tokoh masyarakat setempat, tradisi ini awalnya adalah untuk memberikan penerangan kepada masyarakat yang hendak menuju masjid untuk beribadah selama bulan ramadhan. Namun saat ini tradisi ini hanya dilakukan pada 3 hari terakhir bulan ramadhan sekaligus untuk merayakan hari kemenangan.

Lebaran di kampung orang
                Sebulan berpuasa tibalah hari lebaran. Lokasi yang jauh dari kota membuat kita mempersiapkan lebaran dengan seadanya. tanpa baju baru tanpa gadget baru. Namun tidak dengan masyarakat disana, meskipun dalam kondisi keterbatasan dan jauh dari kota mereka tetap antusias menyambut Hari Lebaran. Berbagai kue kering aneka rasa terhidang di meja, di hari kemenangan inilah akhirnya aku dapat menikmati segaranya sirup marjan.

                Lebaran di pinogu di pusatkan di kecamatan. Setelah masing-masing desa menyelesaikan shalat idul fitri, semua tokoh masyarakat, agama dan adat dan beberapa warga berkumpul di kantor kecamatan untuk melakukan do’a bersama  kemudian ditutup dengan saling bersalaman. Setelah itu barulah tradisi silaturahmi dari rumah ke rumah di lakukan.

                Lebaran hari pertama di Pinogu diwarnai dengan hujan cukup lebat di malam harinya. Setelah lelah bersilaturahmi, malam harinya kemudian saya menuju kantor kecamatan untuk menelpon keluarga. Sebelumnya telpon di pagi hari setelah shalat id tidak efektif karena banyaknya orang yang ingin menelepon sedangkan jaringan telepon terbatas hanya 15 panggilan dalam satu waktu. Di tengah hujan yang masih sedikit deras saya menuju kantor kecamatan  untuk menelepon keluarga, rasa sedih seakan berpelukan dengan hujan yang tak kunjung reda. Untuk pertama kalinya lah saat itu saya melewatkan lebaran bersama keluarga.

Ramadhan dan kehidupan di pinogu mengajarkan semuanya.. kesabaran, perjuangan, toleransi, kebersamaan, dan keikhlasan.. Terimakasih telah berbagi pengalaman mewah ini

Sabtu, 02 Juli 2016

Nuhuta, Pulau Surga Penuh Misteri dan Pesona

Selepas menikmati makan sahur seperti biasa saya membuka HP, mengecek satu persatu obrolan di Whatsapp maupun BBM. Di salah satu group (PRAKARSA) tempat saya dan rekan lainnya pernah mengabdikan diri di pulau-pulau kecil, ada yang membagi info tentang Anugrah Pesona Indonesia (API) Sebuah penganugrahan bergengsi dari Kementrian Pariwisata bagi dunia pariwisata di Indonesia. tak disangka, Kepulauan Kei tempat dimana tahun lalu saya pernah singgah cukup lama dinobatkan sebagai nominasi “Surga Tersembunyi Terpopuler” bersanding dengan Pulau Maratua, Pulau Anambas, Pulau Berhala dan 6 pulau surga lainnya. Klik Selengkapnya

Kepulauan Kei terletak jauh di sebelah tenggara kepulauan Maluku memang belum begitu familiar, saya pun baru mengetahui letak persisinya kepulauan ini pada tahun 2013. Naif, Sebelumnya saya justru baru mengetahui kepulauan surga ini lewat kiprah John Refra atau yang akrab disapa John Kei seorang preman kelas kakap yang kini mendekam di Nusa Kambangan.

Kepulauan Kei memang menyingkap banyak keindahan alami yang masih belum banyak terjamah wisatawan. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah pulau Nuhuta. Inilah salah satu pulau paling Indah di antara gugusan kepulaun Kei Maluku Tenggara.


Pulau Nuhuta terletak di bagian tenggara kepulauan Kei. Pulau ini berjarak sekitar 1 jam perjalanan speedboat dari Pelabuhan Debut Maluku Tenggara. Jika ditempuh menggunakan kapal motor aka jauh lebih lama lagi sekitar 3-4 jam. namun tidak usah khawatir, sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pemandangan gugusan pulau-pulau kei kecil, Ngurtavur (pasir timbul) serta diiringi lumba-lumba yang timbul tenggelam seakan mengawal jalannya kapal.


Pulau nuhuta berasal dari bahasa kei yang jika diartikan berarti pulau kelapa (Nuhu: Pulau, Ta: Kelapa). Pulau ini termasuk dalam petuanan adat Tanimbar Kei dan merupakan kebun kelapa bagi masyarakatnya. Pulau ini tidak berpenduduk dan hanya dibuka 3-4 kali setahun bersamaan dengan musim panen kelapa dan musim panen telur ikan terbang.

Eksotisme pulau Nuhuta
                Pulau Nuhuta merupakan pulau berpasir putih yang cukup halus. Perairan diwaktu musim timur sangat tenang dan teduh. Namun ketika musim barat, deburan ombak yang menerjang pasir putihnya juga cukup menawan. Saking indahnya pulau ini, konon putra mendiang Soeharto (Tommy Suharto) pernah sudah mengakavling pulau ini untuk dijadikan pulau pribadi.


                Pada saat musim angin timur, pulau ini menjadi persinggahan masyarakat untuk memanen buah kelapa dan para pelaut bugis yang mencari ikan terbang.


                Pulau ini di dominasi vegetasi buah kelapa. Banyak terdapat kelapa “kenari” di pulau ini. Kelapa kenari merupakan kelapa dengan rasa air yang menyegarkan (sensasi sprite) dan daging buah yang kenyal.

Orang-orang islam yang menghilang di Pulau Nuhuta



Selain sebagai pulau kelapa, pulau ini juga dikenal sebagai pulau muslim. Penduduk Tanimbar Kei secara turun temurun percaya bahwa pada dahulu kala ada rombongan orang islam yang terdampar di pulau ini dan kemudian menghilang. Mereka percaya, rombongan tersebut kemudian menjelma menjadi tikus dan biawak yang kemudian menghuni pulau nuhuta hingga kini. Oleh karenanya membunuh hewan-hewan tersebut di pulau ini adalah sesuatu yang sangat diharamkan.

Sebagai “pulau muslim”, penduduk Tanimbar Kei yang yang umumnya masih beragama Hindhu sangat menghormati keberadaan pulau ini. Mereka memperlakukan pulau ini layaknya sebuah daerah yang berpenghuni orang-orang Islam. kepercayaan di masyarakat menyebutkan berbagai pantangan untuk dilakukan di pulau ini. Diantaranya adalah membawa babi, membawa mayat, melakukan hubungan suami istri dan melakukan aktivitas pekerjaan di waktu sholat.

Ramadhan di Pulau Nuhuta

                Ramadhan tahun lalu (2015) saya sempat menginap di pulau ini dikarenakan tidak memungkinkan untuk melajutkan perjalanan ditengah gelombang yang masih besar. Pada bulan Ramadhan masyarakat tanimbar kei percaya bahwa para penghuni pulau ini juga berpuasa. Beberapa diantara mereka mengatakan bahwa menjelang buka puasa biasanya tercium bau harum masakan, sedangkan beberapa yang lainnya mengaku mendengar suara adzan dan suara orang-orang sedang mengaji. Semakin penasaran saja saya pulau ini.

                Menginap di di pesisir pulau nuhuta, membuat saya sangat merasa kedinginan. Apalagi kami hanya tidur di pondok yang yang ditutupi daun kelapa. Hingga hampir tengah malam mata ini enggan terpejam. Sekitar jam 4, Pak Kores Rahanmitu (Kades sekaligus tokoh adat tanimbar kei) membangunkan saya untuk makan sahur. Selepas makan sahur, ditemani pak kepala desa dan beberapa warga kami ngobrol-ngobrol tentang pulau ini. Dan benar saja, sekitar jam 4.30 WIT sayup-sayup saya mendengar suara adzan dari kejauhan.

Saya semakin merinding ditengah angin pesisir yang memang sudah dingin. Warga mencoba menenangkan saya yang mulai ketakutan, mereka mengatakan bahwa hal itu sudah wajar, apalagi bagi orang yang pertama kali ke pulau ini. Istilahnya “perkenalan”. Suasana waktu itu begitu hening, warga menyampaikan bahwa pulau ini akan tetap hening sampai adzan dan aktifitas sholat selesai. Dan benar saja sekitar pukul 5.30 secara serentak burung-burung bersahutan.  “Nah itu mas, mereka sudah selesai sholat, kami sekarang sudah dapat bekerja”.

Keadaan hening di pulau nuhuta dipercaya hanya ada ketika waktu sholat. Pada waktu-waktu sholat masyarakat dilarang beraktivitas. Apabila tetap beraktivitas biasanya alat yang mereka gunakan akan rusak, bahkan golok pun akan menjadi tumpul.

Berwisata Ke Pulau Nuhuta

Meskipun pulau ini menyimpan berbagai pesona, sayangnya pulau hanya dibuka pada saat-saat tertentu. sebagai wisatawan yang baik hendaknya kita menghormati tradisi/peraturan setempat. bagi anda yang hendak singgah/berwisata di pulau ini hendaknya terlebih dahulu berkomunikasi dengan aparat desa/tokoh adat tanimbar kei dikarenakan status pulau ini yang masuk dalam petuanan adat. secara adat pulau ini disasi (ditutup) dan memang hanya dibuka pada saat-saat tertentu saja. 

Selasa, 22 Maret 2016

Mengurai Perseturuan Taksi Konvensional vs Taksi Online

Indonesia, Khususnya Jakarta tengah ramai dengan perseteruan Taksi Konvensional (termasuk angkutan kota) dengan Taksi dan ojek Online. Demonstrasi yang terjadi 22 Maret 2016 kali ini merupakan aksi kedua setelah demonstrasi pertama pada tanggal 14 maret 2016 dirasa tidak ditanggapi oleh pemerintah. Tidak tanggung-tanggung demo dan mogok angkutan darat kali  ini meluas sewilayah Jabodetabek. Kedepan Mereka  mengancam akan mengadakan mogok nasional apabila tuntuan mereka tidak juga dipenuhi. Para pendemo menuntut penutupan aplikasi transportasi berbasis online yang dianggap illegal dan menurunkan pendapatan.

news.liputan6.com


Kontroversi trasportasi berbasis online sudah berlangsung cukup lama, Menteri Perhubungan Ignatius Jonan pada 18 Desember 2015 sempat mengeluarkan perintah pembekuan transportasi berbasis online seperti Gojek, Uber, dan Grab. Kebijakan ini langsung memacing reaksi masyarakat yang umumnya menolak pembekuan transportasi berbasis online.  Di Jagat maya (Twitter) muncul tranding topic #SaveGojek dan meminta menteri perhubungan mencabut larangan tersebut. Reaksi penolakan pemebekuan transportasi berbasis online juga sempat disampaikan oleh presiden Jokowi. Melihat rekasi masyarakat yang sedemikian besar akan keberadaan transportasi berbasis online, menteri perhubungan akhirnya mencabut kebijakan pembekuan ini.

Sesaat setalah pencabutan pembekuan ini, diam-diam ternyata Kementerian Perhubungan telah meminta kementrian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) melakukan pemblokiran atas aplikasi transportasi berbasis online khusunya adalah Uber dan GrabCar. Aplikasi Gojek sendiri yang mengkhusukan pelayanan dengan sepeda motor lolos dari kebijakan ini dikarenakan belum ada regulasi yang mengatur mengenai armada sepeda motor yang dijadikan angkutan umum. Namun hingga demo kedua ini Kominfo masih tetap membiarkan oprasional aplikasi transportasi berbasis online dengan alasan masih melakukan kajian dan komunikasi dengan Kemenhub termasuk juga dengan Kementrian Koperasi terkait perizinan aplikasi transportasi berbasis online.

Transportasi berbasis Online; Pelayanan Prima dan Kemurahan Harga.
                Transportasi berbasis online selama ini dikenal dengan pelayanan prima dan harga yang bersahabat. Armada yang digunakan adalah mobil berplat hitam yang umumnya masih baru. Manajemen Uber dan Grabcar mensyarakatkan mobil yang dipakai untuk melayani konsumen adalah maksimal berusia 5 tahun. Selama menggunakan jasa ini konsumen dimanjakan seperti menggunakan mobil dan supir pribadi. Belum lagi harganya yang jelas dan tidak berubah-ubah serta murah menjadikan masyarakat banyak beralih dari taksi konvensional menggunakan taksi berbasis online.

                Lain lagi dengan Gojek dan Grabbike, Layanan ini menggunakan armada sepeda motor yang mengutamakan kecepatan dan bebas kemacetan. Penumpang juga dimanjakan dengan adanya Masker dan penutup kepala serta helm. Pelayanan prima dan harga yang bersaing lagi-lagi memunculkan kecemburuan dari transportasi lain seperti Ojek pangkalan dan juga angkutan lain tak terkecuali taksi dan bajaj yang merasa tersaingi.

Menuntut Kesetaraan
                Semakin banyaknya masyarakat yang beralih menggunakan aplikasi berbasis online lambat-laun semakin mengusik keberadaan angkutan konvensional (angkot, taksi dan bajaj). Alih-alih meningkatkan kulaitas pelayanan dan berinovasi dalam persaingan mereka justru menuntut transportasi berbasis online dibekukan.

                Pengusaha dan pengemudi taksi konvensional berdalih beroperasinya taksi berbasis online harus dibarengi dengan kesetaraan regulasi dari Pemerintah. Mereka menganggap perbedaan tarif taksi online yang lebih murah dikarenakan mereka tidak terbebeni dengan berbagai kewajiban seperti pajak, Uji KIR, serta penyediaan Pool dan Bengkel. Alasan diplomatisnya adalah bahwa Pemerintah harus menegakan aturan dan undang-undang transportasi. Menurut pengusaha taksi konvensional regulasi angkutan darat (uji KIR dll) juga penting dipatuhi juga oleh taksi berbasis online untuk menjamin keselamatan penumpang itu sendiri. Disisi lain terkait masalah keselamatan penumpang,  menejemen transportasi berbasis online sudah mempunyai aturan tersendiri misalnya dengan memberikan jaminan asuransi kecelakaan bagi penumpang, identitas driver juga sudah otomatis terintegrasi dengan sistem online sehingga mudah ditelusuri jika sewaktu-waktu penumpang mengalami kejadian yang tidak diinginkan.

news.liputan6.com


Sebuah usulan Solusi
Tuntutan pengemudi taksi konvensional untuk menutup aplikasi transportasi berbasis online bukanlah tuntutan yang bijak karena teknologi terus dan akan semakin berkembang untuk memudahkan kehidupan masyarakat. Tindakan pemerintah untuk memblokir aplikasi transportasi berbasis online tanpa kompromi juga kurang tepat mengingat banyak sekali masyarakat yang terbantu dengan kehadiran transportasi ini ditengah ketidakmampuan pemerintah menyediakan transportasi yang nyaman dan murah. Belum lagi dengan nasib pengemudi transportasi online yang akan terlantar ditengah sulitnya mencari lapangan pekerjaan.

Pun demikian Transportasi berbasis online dengan berbagai kemudahan dan kemurahan harga harus sadar diri bahwa Pada dasarnya penggunaan angkutan plat hitam memang bukan dimaksudkan sebagai angkutan umum dan bisa dikatakan illegal. Transportasi berbasis online harus turut berbenah mengikuti berbagai aturan yang dipersayaratkan seperti layaknya angkutan umum guna menjamin legalitas dan ketertiban bersama.

Demikian juga taksi konvensional juga harus bersama-sama berbenah meningkatkan pelayanan mereka ditengah berbagai keluahan atas pengemudi. Taksi konvensional harus mampu bertindak tegas apabila ada pengemudinya yang  meminta penumpang membayar diatas argo, tidak hafal jalan sehingga membuat penumpang berputar-putar dan terjebak kemacetan.

Terkait masalah tarif yang bisa dikatakan merupakan biang perselisihan ini, beberapa usulan ini mungkin dapat dijadikan solusi untuk mengatasi kecemburan penetapan tarif. Yaitu:

Ø  Taksi konvensional memberikan 2 Opsi layanan bagi penumpang yaitu sistem taksi berbasis Online maupun sistem Taksi Konvensional. Dengan adanya opsi online maupun konvensional masayarakat dapat memesan secara online dengan mengikuti sistem tarif online atau memesan taksi ke pool dan memberhentikan dijalan dengan menggunakan tarif Argo.

Ø  Pemerintah menetapkan tarif batas atas dan batas bawah per kilometer bagi taksi yang menggunnakan aplikasi berbasis online. Untuk menjaga perang tarif antar operator dan mengantisipasi melambungnya kenaikan tarif taksi online pada jam sibuk, pemerintah menetapkan batas atas dan batas bawah bagi taksi online.

Ø  Tarif taksi yang menggunakan sistem argo ditetapkan oleh Organda (organisasi angkutan darat) dengan mempertimbangkan tarif taksi online.

Secara sekilas tarif tersebut memang lebih menguntungkan taksi konvensional karena dapat memberikan dua opsi layanan, namun tarif taksi online juga tidak dirugikan karena tetap bisa beroperasi dengan bermain pilihan tarif batas atas maupun batas bawah maupun dengan meningkatkan layanan lain.


Demikianlah kemajuan teknologi pasti akan memakan banyak korban, hanya yang mampu berdaptasi yang akan bertahan. Pengemudi Taksi Konvensional maupun taksi Online harus sama-sama dilindungi, karena dibelakang mereka ada anak dan istri yang harus dinafkahi.

Minggu, 20 Maret 2016

Tentang "Mantan"

Membaca obrolan di group Whatsapp, entah mengapa mengapa ingin mendengarkan kembali lagu-lagu YUI. Sore itu, layar handphone dipenuhi ratusan notifikasi group yang berisi ucapan selamat atas pernikahan seorang kawan. Banyak juga selingan obrolan nggak jelas yang mengenang kembali saat-saat anggota group masih dapat berkumpul bersama. Hingga kemudian, obrolan sejenak menjadi terasa hening, saat seorang menayakan pasangan yang menjadi pengantin.

Seperti apa jadinya saat hari pernikahanmu lalu diingatkan tentang sesorang  yang sudah menjadi kenangan? Terlebih orang itu dikira menjadi pasangan pengantinmu.. Mungkin inilah alasan mengapa banyak orang yang tidak mengundang mantan di hari pernikannya.. atau alasan bagi seseorang untuk tidak menghadiri undangan pernikahan mantannya..

XXX: Barokallahulakuma ya.. moga sakinah mawadah wa rohmah
YYY: Selamat menempuh hidup baru, moga samara
AAA: Aamiin.. makasih ya teman-teman atas do’anya..
RRR: Jadi itu si MMM? Akhirnya Selamat ya moga samara
AAA: Pertanyaanmu Mba RRR.. J I Miss U
RRR: iya itu si MMM kan? Penasaran ih..

Entah mengapa, obrolan sore itu membuatku ingin menulis tentang -mantan-

“Terkadang sesorang kembali teringat mantan, bukan karena hujan.. mungkin karena ada yang salah memberi pertanyaan”

Banyak orang mendefinisikan mantan,

Mantan mungkin adalah seseorang yang paling rumit dalam memori kehidupan.. seorang yang paling ingin dilupakan, namun yang paling sering terlintas dalam kenangan..

Mantan adalah sesorang yang kerap hadir, namun kehadirannya hanya menambah sunyi.  sesorang yang kerap membuat tersenyum saat teringat,  namun tiba-tiba ingin menangis, terasa sakit, marah, atau mungkin frustasi..  

Mantan mungkin adalah orang  tercinta yang terputus saat marah karena dikhianati, karena lelah menjalani LDR yang tak pasti, orang tua yang tak merestui,  Atau mungkin karena sudah tak sabar menunggu untuk sedikit waktu lagi..  

(www.pleasantwalls.com)

-Dari sekian Yang paling menyesakan adalah mantan yang terputus karena miskomunikasi, kemudian saling sesal karena masih mencintai-


Bila diizinkan.., mantan merupakan orang paling ingin kita peluk, meski sebagai pelukan terakhir sambil menghela nafas panjang penyesalan dan salam perpisahan.. – miss u

Kamis, 12 November 2015

Menjaga Alam, menghormati Leluhur. (Catatan Kearifan Masyarakat Tanimbar Kei)



Tanimbar Kei merupakan pulau paling ujung tenggara dari kepulauan kei, Maluku Tenggara. Pulau ini dinamakan Tanimbar Kei karena merupakan peralihan dari Kepulauan Tanimbar dan Kepulauan Kei. Untuk menjangkau pulau ini tidak ada kapal line atau yang berjadwal tetap, sehingga pilihannya hanya 2 yaitu ikut bersama kapal motor masyarakat atau menyewa speed boat. Pulau ini dapat dijangkau dari langgur (ibukota maluku tenggara) selama kurang lebih 5-6 jam menggunakan kapal motor masyarakat atau sekitar 2-3 jam jika menggunakan speed boat (termasuk waktu tempuh dari kota langgur menuju pelabuhan debut).

(Perahu kayu, transportasi andalan masyarat tanimbar kei)

 
Guna menjangkau pulau ini harus pandai menghitung waktu. Dikarenakan jika salah perhitungan, kapal terpaksa harus bersandar dulu di pulau nuhuta (pulau kosong di utara tanimbar kei) atau terkatung-katung di tengah laut karena terjebak surut air laut atau yang oleh warga setempat disebut meti. aktivitas pasang surut di pulau tanimbar kei sendiri termasuk dalam tipe pasang surut ganda (mix prevailing semidiurnal) yang terjadi pada waktu pagi-sore atau siang-malam.

Selain harus pandai mengitung waktu pasang surut, ombak di perairan menuju pulau tanimbar kei  juga terkenal cukup tinggi terutama di celah antara pulau nuhuta dan pulau tanimbar kei. ketinggian ombak di perairan ini dipengaruhi oleh arus laut yang mengalir dari laut arafura menuju laut banda, dimana pulau tanimbar kei merupakan salah satu zona peralihan diantara keduanya.

Meskipun demikian, pulau tanimbar kei tetap menjadi pilihan bagi sekitar 750 penduduk untuk tetap bermukim dan mencari penghidupan. Pulau ini sangat kaya akan sumberdaya alam yang masih sangat terjaga. menurut cerita masyarakat, pulau tanimbar kei dulunya merupakan pulau terpadat kedua setelah pulau dullah (kota tual). salah satu cacatan kolonial Hindia Belanda pada tahun 1880an menyebutkan pada waktu itu pulau ini telah dihuni sekitar 1000 penduduk.

Demikian juga bagi peneliti maupun wisatwan, pulau ini selalu menarik untuk dikunjungi. kunjungan wisatawan dan peneliti di pulau ini mencapai 50 persen dari total kunjungan yang tercatat di buku tamu desa. menariknya mayoritas kunjungan wisata di pulau ini didominasi oleh wisatawan mancanegara. Dalam 10 tahun terakhir tercatat wisatawan dari 23 negara telah mengunjungi pulau ini yang didominasi oleh wisatawan Eropa. Pulau ini juga telah menarik antropolog Prancis Dr.Cecile Barraud untuk tinggal bertahun-tahun guna mengamati kehidupan masyarakat adat tanimbar kei.  

(Rumah Adat, penjaga adat tanimbar kei)
 
Salah satu daya tarik pulau tanimbar kei adalah adat dan budaya leluhur yang masih di pegang teguh oleh masyarakatnya. Di kepulauan kei hanya di pulau ini masih dijumpai rumah adat yang dipertahankan bentuk dan keasliannya selama beratus-ratus tahun. Bagi masyarakat tanimbar kei, adat menjadi pegangan masyarakat untuk melakukan berbagai kegiatan maupun memecahkan berbagai masalah dan persoalan.

Sasi, sistem adat untuk pengendalian pemanfaatan SDA
Adat juga menjadi sumber pedoman dalam pengelolaan sumberdaya alam termasuk untuk mengatur pengambilan sumberdaya alam baik di darat ataupun di laut. berbagai peraturan adat tentang pengelolaan sumberdaya ini bahkan telah dibuat secara tertulis (dibukukan) menjadi peraturan desa dan peraturan adat. 

Guna menjaga kelesatarian sumberdaya alam, masyarakat menggunakan sistem sasi Sumberdaya. Sasi merupakan sistem adat untuk membatasi aktivitas masyarakat pada kawasan atau waktu tertentu. Sasi sumberdaya dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada sumberdaya alam darat, pesisir dan laut untuk memberi kesempatan tumbuh dan berkembang sehingga dapat terjaga kelestariannya. Penetapan waktu sasi ada yang sudah terjadwal maupun berdasarkan tanda-tanda alam. di pulau tanimbar kei terdapat berbagai sasi untuk sumberdaya alam diantaraanya yaitu:
 
Ø  Sasi Lola (Throcus niloticus) dibuka 3 hari dalam setahun,
Ø  Sasi teripang dibuka setelah penutupan sasi lola sampai ketika ada angin kencang
Ø  Sasi kelapa pulau nuhuta dilakukan selama sekitar 4-6 bulan dan dibuka sampai penduduk selesai mengambil dan membuat kopra.
Ø  Sasi benda, pohon dan hewan-hewan tertentu.

Penyu, Hewan Sakral yang tidak boleh diperjual-belikan
Selain sasi, masyarakat adat juga mempunyai kearifan lain terutama yang berkaitan dengan totenisme (kepecayaan teradap binatang-bintang tertentu). Jika di daerah lain masih banyak masyarakat yang menangkap memperdagangkan penyu, maka hal ini tidak berlaku di pulau Tanimbar kei. Penyu merupakan hewan sakral yang tidak sembarangan bisa ditangkap dan diperdagangkan. 

Apabila ada masyarakat yang menemukan atau menangkap penyu, maka hasil tangkapan itu seharusnya menjadi milik adat dan harus disajikan kepada tetua adat dan dimakan bersama-sama. Apabila ada yang memperjual belikan penyu, maka orang tersebut terkena sanksi adat dan harus membayar denda dengan menyembelih seekor babi dan mengikuti ritual adat yang telah ditentukan. Kearifan lokal ini cukup ampuh menekan penangkapan penyu secara berlebihan di pulau Tanimbar Kei.

Perkembangan zaman sebuah tantangan.
            Demikianlah, masyarakat tanimbar kei secara beratus-ratus tahun telah hidup bersama adat untuk mengatur berbagi aspek kehidupan termasuk dalam pengelolaan sumberdaya Alam. Meskipun zaman telah silih berganti dan tantangan juga tak pernah henti, masyarakat tanimbar kei terbukti mampu mempertahankan adat sebagai warisan leluhur yang dihormati. 

Tulisan ini juga diterbitkan di Web DFW Indonesia