Labels

Tampilkan postingan dengan label Agama dan Negeriku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama dan Negeriku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juli 2016

Nuhuta, Pulau Surga Penuh Misteri dan Pesona

Selepas menikmati makan sahur seperti biasa saya membuka HP, mengecek satu persatu obrolan di Whatsapp maupun BBM. Di salah satu group (PRAKARSA) tempat saya dan rekan lainnya pernah mengabdikan diri di pulau-pulau kecil, ada yang membagi info tentang Anugrah Pesona Indonesia (API) Sebuah penganugrahan bergengsi dari Kementrian Pariwisata bagi dunia pariwisata di Indonesia. tak disangka, Kepulauan Kei tempat dimana tahun lalu saya pernah singgah cukup lama dinobatkan sebagai nominasi “Surga Tersembunyi Terpopuler” bersanding dengan Pulau Maratua, Pulau Anambas, Pulau Berhala dan 6 pulau surga lainnya. Klik Selengkapnya

Kepulauan Kei terletak jauh di sebelah tenggara kepulauan Maluku memang belum begitu familiar, saya pun baru mengetahui letak persisinya kepulauan ini pada tahun 2013. Naif, Sebelumnya saya justru baru mengetahui kepulauan surga ini lewat kiprah John Refra atau yang akrab disapa John Kei seorang preman kelas kakap yang kini mendekam di Nusa Kambangan.

Kepulauan Kei memang menyingkap banyak keindahan alami yang masih belum banyak terjamah wisatawan. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah pulau Nuhuta. Inilah salah satu pulau paling Indah di antara gugusan kepulaun Kei Maluku Tenggara.


Pulau Nuhuta terletak di bagian tenggara kepulauan Kei. Pulau ini berjarak sekitar 1 jam perjalanan speedboat dari Pelabuhan Debut Maluku Tenggara. Jika ditempuh menggunakan kapal motor aka jauh lebih lama lagi sekitar 3-4 jam. namun tidak usah khawatir, sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pemandangan gugusan pulau-pulau kei kecil, Ngurtavur (pasir timbul) serta diiringi lumba-lumba yang timbul tenggelam seakan mengawal jalannya kapal.


Pulau nuhuta berasal dari bahasa kei yang jika diartikan berarti pulau kelapa (Nuhu: Pulau, Ta: Kelapa). Pulau ini termasuk dalam petuanan adat Tanimbar Kei dan merupakan kebun kelapa bagi masyarakatnya. Pulau ini tidak berpenduduk dan hanya dibuka 3-4 kali setahun bersamaan dengan musim panen kelapa dan musim panen telur ikan terbang.

Eksotisme pulau Nuhuta
                Pulau Nuhuta merupakan pulau berpasir putih yang cukup halus. Perairan diwaktu musim timur sangat tenang dan teduh. Namun ketika musim barat, deburan ombak yang menerjang pasir putihnya juga cukup menawan. Saking indahnya pulau ini, konon putra mendiang Soeharto (Tommy Suharto) pernah sudah mengakavling pulau ini untuk dijadikan pulau pribadi.


                Pada saat musim angin timur, pulau ini menjadi persinggahan masyarakat untuk memanen buah kelapa dan para pelaut bugis yang mencari ikan terbang.


                Pulau ini di dominasi vegetasi buah kelapa. Banyak terdapat kelapa “kenari” di pulau ini. Kelapa kenari merupakan kelapa dengan rasa air yang menyegarkan (sensasi sprite) dan daging buah yang kenyal.

Orang-orang islam yang menghilang di Pulau Nuhuta



Selain sebagai pulau kelapa, pulau ini juga dikenal sebagai pulau muslim. Penduduk Tanimbar Kei secara turun temurun percaya bahwa pada dahulu kala ada rombongan orang islam yang terdampar di pulau ini dan kemudian menghilang. Mereka percaya, rombongan tersebut kemudian menjelma menjadi tikus dan biawak yang kemudian menghuni pulau nuhuta hingga kini. Oleh karenanya membunuh hewan-hewan tersebut di pulau ini adalah sesuatu yang sangat diharamkan.

Sebagai “pulau muslim”, penduduk Tanimbar Kei yang yang umumnya masih beragama Hindhu sangat menghormati keberadaan pulau ini. Mereka memperlakukan pulau ini layaknya sebuah daerah yang berpenghuni orang-orang Islam. kepercayaan di masyarakat menyebutkan berbagai pantangan untuk dilakukan di pulau ini. Diantaranya adalah membawa babi, membawa mayat, melakukan hubungan suami istri dan melakukan aktivitas pekerjaan di waktu sholat.

Ramadhan di Pulau Nuhuta

                Ramadhan tahun lalu (2015) saya sempat menginap di pulau ini dikarenakan tidak memungkinkan untuk melajutkan perjalanan ditengah gelombang yang masih besar. Pada bulan Ramadhan masyarakat tanimbar kei percaya bahwa para penghuni pulau ini juga berpuasa. Beberapa diantara mereka mengatakan bahwa menjelang buka puasa biasanya tercium bau harum masakan, sedangkan beberapa yang lainnya mengaku mendengar suara adzan dan suara orang-orang sedang mengaji. Semakin penasaran saja saya pulau ini.

                Menginap di di pesisir pulau nuhuta, membuat saya sangat merasa kedinginan. Apalagi kami hanya tidur di pondok yang yang ditutupi daun kelapa. Hingga hampir tengah malam mata ini enggan terpejam. Sekitar jam 4, Pak Kores Rahanmitu (Kades sekaligus tokoh adat tanimbar kei) membangunkan saya untuk makan sahur. Selepas makan sahur, ditemani pak kepala desa dan beberapa warga kami ngobrol-ngobrol tentang pulau ini. Dan benar saja, sekitar jam 4.30 WIT sayup-sayup saya mendengar suara adzan dari kejauhan.

Saya semakin merinding ditengah angin pesisir yang memang sudah dingin. Warga mencoba menenangkan saya yang mulai ketakutan, mereka mengatakan bahwa hal itu sudah wajar, apalagi bagi orang yang pertama kali ke pulau ini. Istilahnya “perkenalan”. Suasana waktu itu begitu hening, warga menyampaikan bahwa pulau ini akan tetap hening sampai adzan dan aktifitas sholat selesai. Dan benar saja sekitar pukul 5.30 secara serentak burung-burung bersahutan.  “Nah itu mas, mereka sudah selesai sholat, kami sekarang sudah dapat bekerja”.

Keadaan hening di pulau nuhuta dipercaya hanya ada ketika waktu sholat. Pada waktu-waktu sholat masyarakat dilarang beraktivitas. Apabila tetap beraktivitas biasanya alat yang mereka gunakan akan rusak, bahkan golok pun akan menjadi tumpul.

Berwisata Ke Pulau Nuhuta

Meskipun pulau ini menyimpan berbagai pesona, sayangnya pulau hanya dibuka pada saat-saat tertentu. sebagai wisatawan yang baik hendaknya kita menghormati tradisi/peraturan setempat. bagi anda yang hendak singgah/berwisata di pulau ini hendaknya terlebih dahulu berkomunikasi dengan aparat desa/tokoh adat tanimbar kei dikarenakan status pulau ini yang masuk dalam petuanan adat. secara adat pulau ini disasi (ditutup) dan memang hanya dibuka pada saat-saat tertentu saja. 

Selasa, 22 Maret 2016

Mengurai Perseturuan Taksi Konvensional vs Taksi Online

Indonesia, Khususnya Jakarta tengah ramai dengan perseteruan Taksi Konvensional (termasuk angkutan kota) dengan Taksi dan ojek Online. Demonstrasi yang terjadi 22 Maret 2016 kali ini merupakan aksi kedua setelah demonstrasi pertama pada tanggal 14 maret 2016 dirasa tidak ditanggapi oleh pemerintah. Tidak tanggung-tanggung demo dan mogok angkutan darat kali  ini meluas sewilayah Jabodetabek. Kedepan Mereka  mengancam akan mengadakan mogok nasional apabila tuntuan mereka tidak juga dipenuhi. Para pendemo menuntut penutupan aplikasi transportasi berbasis online yang dianggap illegal dan menurunkan pendapatan.

news.liputan6.com


Kontroversi trasportasi berbasis online sudah berlangsung cukup lama, Menteri Perhubungan Ignatius Jonan pada 18 Desember 2015 sempat mengeluarkan perintah pembekuan transportasi berbasis online seperti Gojek, Uber, dan Grab. Kebijakan ini langsung memacing reaksi masyarakat yang umumnya menolak pembekuan transportasi berbasis online.  Di Jagat maya (Twitter) muncul tranding topic #SaveGojek dan meminta menteri perhubungan mencabut larangan tersebut. Reaksi penolakan pemebekuan transportasi berbasis online juga sempat disampaikan oleh presiden Jokowi. Melihat rekasi masyarakat yang sedemikian besar akan keberadaan transportasi berbasis online, menteri perhubungan akhirnya mencabut kebijakan pembekuan ini.

Sesaat setalah pencabutan pembekuan ini, diam-diam ternyata Kementerian Perhubungan telah meminta kementrian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) melakukan pemblokiran atas aplikasi transportasi berbasis online khusunya adalah Uber dan GrabCar. Aplikasi Gojek sendiri yang mengkhusukan pelayanan dengan sepeda motor lolos dari kebijakan ini dikarenakan belum ada regulasi yang mengatur mengenai armada sepeda motor yang dijadikan angkutan umum. Namun hingga demo kedua ini Kominfo masih tetap membiarkan oprasional aplikasi transportasi berbasis online dengan alasan masih melakukan kajian dan komunikasi dengan Kemenhub termasuk juga dengan Kementrian Koperasi terkait perizinan aplikasi transportasi berbasis online.

Transportasi berbasis Online; Pelayanan Prima dan Kemurahan Harga.
                Transportasi berbasis online selama ini dikenal dengan pelayanan prima dan harga yang bersahabat. Armada yang digunakan adalah mobil berplat hitam yang umumnya masih baru. Manajemen Uber dan Grabcar mensyarakatkan mobil yang dipakai untuk melayani konsumen adalah maksimal berusia 5 tahun. Selama menggunakan jasa ini konsumen dimanjakan seperti menggunakan mobil dan supir pribadi. Belum lagi harganya yang jelas dan tidak berubah-ubah serta murah menjadikan masyarakat banyak beralih dari taksi konvensional menggunakan taksi berbasis online.

                Lain lagi dengan Gojek dan Grabbike, Layanan ini menggunakan armada sepeda motor yang mengutamakan kecepatan dan bebas kemacetan. Penumpang juga dimanjakan dengan adanya Masker dan penutup kepala serta helm. Pelayanan prima dan harga yang bersaing lagi-lagi memunculkan kecemburuan dari transportasi lain seperti Ojek pangkalan dan juga angkutan lain tak terkecuali taksi dan bajaj yang merasa tersaingi.

Menuntut Kesetaraan
                Semakin banyaknya masyarakat yang beralih menggunakan aplikasi berbasis online lambat-laun semakin mengusik keberadaan angkutan konvensional (angkot, taksi dan bajaj). Alih-alih meningkatkan kulaitas pelayanan dan berinovasi dalam persaingan mereka justru menuntut transportasi berbasis online dibekukan.

                Pengusaha dan pengemudi taksi konvensional berdalih beroperasinya taksi berbasis online harus dibarengi dengan kesetaraan regulasi dari Pemerintah. Mereka menganggap perbedaan tarif taksi online yang lebih murah dikarenakan mereka tidak terbebeni dengan berbagai kewajiban seperti pajak, Uji KIR, serta penyediaan Pool dan Bengkel. Alasan diplomatisnya adalah bahwa Pemerintah harus menegakan aturan dan undang-undang transportasi. Menurut pengusaha taksi konvensional regulasi angkutan darat (uji KIR dll) juga penting dipatuhi juga oleh taksi berbasis online untuk menjamin keselamatan penumpang itu sendiri. Disisi lain terkait masalah keselamatan penumpang,  menejemen transportasi berbasis online sudah mempunyai aturan tersendiri misalnya dengan memberikan jaminan asuransi kecelakaan bagi penumpang, identitas driver juga sudah otomatis terintegrasi dengan sistem online sehingga mudah ditelusuri jika sewaktu-waktu penumpang mengalami kejadian yang tidak diinginkan.

news.liputan6.com


Sebuah usulan Solusi
Tuntutan pengemudi taksi konvensional untuk menutup aplikasi transportasi berbasis online bukanlah tuntutan yang bijak karena teknologi terus dan akan semakin berkembang untuk memudahkan kehidupan masyarakat. Tindakan pemerintah untuk memblokir aplikasi transportasi berbasis online tanpa kompromi juga kurang tepat mengingat banyak sekali masyarakat yang terbantu dengan kehadiran transportasi ini ditengah ketidakmampuan pemerintah menyediakan transportasi yang nyaman dan murah. Belum lagi dengan nasib pengemudi transportasi online yang akan terlantar ditengah sulitnya mencari lapangan pekerjaan.

Pun demikian Transportasi berbasis online dengan berbagai kemudahan dan kemurahan harga harus sadar diri bahwa Pada dasarnya penggunaan angkutan plat hitam memang bukan dimaksudkan sebagai angkutan umum dan bisa dikatakan illegal. Transportasi berbasis online harus turut berbenah mengikuti berbagai aturan yang dipersayaratkan seperti layaknya angkutan umum guna menjamin legalitas dan ketertiban bersama.

Demikian juga taksi konvensional juga harus bersama-sama berbenah meningkatkan pelayanan mereka ditengah berbagai keluahan atas pengemudi. Taksi konvensional harus mampu bertindak tegas apabila ada pengemudinya yang  meminta penumpang membayar diatas argo, tidak hafal jalan sehingga membuat penumpang berputar-putar dan terjebak kemacetan.

Terkait masalah tarif yang bisa dikatakan merupakan biang perselisihan ini, beberapa usulan ini mungkin dapat dijadikan solusi untuk mengatasi kecemburan penetapan tarif. Yaitu:

Ø  Taksi konvensional memberikan 2 Opsi layanan bagi penumpang yaitu sistem taksi berbasis Online maupun sistem Taksi Konvensional. Dengan adanya opsi online maupun konvensional masayarakat dapat memesan secara online dengan mengikuti sistem tarif online atau memesan taksi ke pool dan memberhentikan dijalan dengan menggunakan tarif Argo.

Ø  Pemerintah menetapkan tarif batas atas dan batas bawah per kilometer bagi taksi yang menggunnakan aplikasi berbasis online. Untuk menjaga perang tarif antar operator dan mengantisipasi melambungnya kenaikan tarif taksi online pada jam sibuk, pemerintah menetapkan batas atas dan batas bawah bagi taksi online.

Ø  Tarif taksi yang menggunakan sistem argo ditetapkan oleh Organda (organisasi angkutan darat) dengan mempertimbangkan tarif taksi online.

Secara sekilas tarif tersebut memang lebih menguntungkan taksi konvensional karena dapat memberikan dua opsi layanan, namun tarif taksi online juga tidak dirugikan karena tetap bisa beroperasi dengan bermain pilihan tarif batas atas maupun batas bawah maupun dengan meningkatkan layanan lain.


Demikianlah kemajuan teknologi pasti akan memakan banyak korban, hanya yang mampu berdaptasi yang akan bertahan. Pengemudi Taksi Konvensional maupun taksi Online harus sama-sama dilindungi, karena dibelakang mereka ada anak dan istri yang harus dinafkahi.

Kamis, 12 November 2015

Menjaga Alam, menghormati Leluhur. (Catatan Kearifan Masyarakat Tanimbar Kei)



Tanimbar Kei merupakan pulau paling ujung tenggara dari kepulauan kei, Maluku Tenggara. Pulau ini dinamakan Tanimbar Kei karena merupakan peralihan dari Kepulauan Tanimbar dan Kepulauan Kei. Untuk menjangkau pulau ini tidak ada kapal line atau yang berjadwal tetap, sehingga pilihannya hanya 2 yaitu ikut bersama kapal motor masyarakat atau menyewa speed boat. Pulau ini dapat dijangkau dari langgur (ibukota maluku tenggara) selama kurang lebih 5-6 jam menggunakan kapal motor masyarakat atau sekitar 2-3 jam jika menggunakan speed boat (termasuk waktu tempuh dari kota langgur menuju pelabuhan debut).

(Perahu kayu, transportasi andalan masyarat tanimbar kei)

 
Guna menjangkau pulau ini harus pandai menghitung waktu. Dikarenakan jika salah perhitungan, kapal terpaksa harus bersandar dulu di pulau nuhuta (pulau kosong di utara tanimbar kei) atau terkatung-katung di tengah laut karena terjebak surut air laut atau yang oleh warga setempat disebut meti. aktivitas pasang surut di pulau tanimbar kei sendiri termasuk dalam tipe pasang surut ganda (mix prevailing semidiurnal) yang terjadi pada waktu pagi-sore atau siang-malam.

Selain harus pandai mengitung waktu pasang surut, ombak di perairan menuju pulau tanimbar kei  juga terkenal cukup tinggi terutama di celah antara pulau nuhuta dan pulau tanimbar kei. ketinggian ombak di perairan ini dipengaruhi oleh arus laut yang mengalir dari laut arafura menuju laut banda, dimana pulau tanimbar kei merupakan salah satu zona peralihan diantara keduanya.

Meskipun demikian, pulau tanimbar kei tetap menjadi pilihan bagi sekitar 750 penduduk untuk tetap bermukim dan mencari penghidupan. Pulau ini sangat kaya akan sumberdaya alam yang masih sangat terjaga. menurut cerita masyarakat, pulau tanimbar kei dulunya merupakan pulau terpadat kedua setelah pulau dullah (kota tual). salah satu cacatan kolonial Hindia Belanda pada tahun 1880an menyebutkan pada waktu itu pulau ini telah dihuni sekitar 1000 penduduk.

Demikian juga bagi peneliti maupun wisatwan, pulau ini selalu menarik untuk dikunjungi. kunjungan wisatawan dan peneliti di pulau ini mencapai 50 persen dari total kunjungan yang tercatat di buku tamu desa. menariknya mayoritas kunjungan wisata di pulau ini didominasi oleh wisatawan mancanegara. Dalam 10 tahun terakhir tercatat wisatawan dari 23 negara telah mengunjungi pulau ini yang didominasi oleh wisatawan Eropa. Pulau ini juga telah menarik antropolog Prancis Dr.Cecile Barraud untuk tinggal bertahun-tahun guna mengamati kehidupan masyarakat adat tanimbar kei.  

(Rumah Adat, penjaga adat tanimbar kei)
 
Salah satu daya tarik pulau tanimbar kei adalah adat dan budaya leluhur yang masih di pegang teguh oleh masyarakatnya. Di kepulauan kei hanya di pulau ini masih dijumpai rumah adat yang dipertahankan bentuk dan keasliannya selama beratus-ratus tahun. Bagi masyarakat tanimbar kei, adat menjadi pegangan masyarakat untuk melakukan berbagai kegiatan maupun memecahkan berbagai masalah dan persoalan.

Sasi, sistem adat untuk pengendalian pemanfaatan SDA
Adat juga menjadi sumber pedoman dalam pengelolaan sumberdaya alam termasuk untuk mengatur pengambilan sumberdaya alam baik di darat ataupun di laut. berbagai peraturan adat tentang pengelolaan sumberdaya ini bahkan telah dibuat secara tertulis (dibukukan) menjadi peraturan desa dan peraturan adat. 

Guna menjaga kelesatarian sumberdaya alam, masyarakat menggunakan sistem sasi Sumberdaya. Sasi merupakan sistem adat untuk membatasi aktivitas masyarakat pada kawasan atau waktu tertentu. Sasi sumberdaya dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada sumberdaya alam darat, pesisir dan laut untuk memberi kesempatan tumbuh dan berkembang sehingga dapat terjaga kelestariannya. Penetapan waktu sasi ada yang sudah terjadwal maupun berdasarkan tanda-tanda alam. di pulau tanimbar kei terdapat berbagai sasi untuk sumberdaya alam diantaraanya yaitu:
 
Ø  Sasi Lola (Throcus niloticus) dibuka 3 hari dalam setahun,
Ø  Sasi teripang dibuka setelah penutupan sasi lola sampai ketika ada angin kencang
Ø  Sasi kelapa pulau nuhuta dilakukan selama sekitar 4-6 bulan dan dibuka sampai penduduk selesai mengambil dan membuat kopra.
Ø  Sasi benda, pohon dan hewan-hewan tertentu.

Penyu, Hewan Sakral yang tidak boleh diperjual-belikan
Selain sasi, masyarakat adat juga mempunyai kearifan lain terutama yang berkaitan dengan totenisme (kepecayaan teradap binatang-bintang tertentu). Jika di daerah lain masih banyak masyarakat yang menangkap memperdagangkan penyu, maka hal ini tidak berlaku di pulau Tanimbar kei. Penyu merupakan hewan sakral yang tidak sembarangan bisa ditangkap dan diperdagangkan. 

Apabila ada masyarakat yang menemukan atau menangkap penyu, maka hasil tangkapan itu seharusnya menjadi milik adat dan harus disajikan kepada tetua adat dan dimakan bersama-sama. Apabila ada yang memperjual belikan penyu, maka orang tersebut terkena sanksi adat dan harus membayar denda dengan menyembelih seekor babi dan mengikuti ritual adat yang telah ditentukan. Kearifan lokal ini cukup ampuh menekan penangkapan penyu secara berlebihan di pulau Tanimbar Kei.

Perkembangan zaman sebuah tantangan.
            Demikianlah, masyarakat tanimbar kei secara beratus-ratus tahun telah hidup bersama adat untuk mengatur berbagi aspek kehidupan termasuk dalam pengelolaan sumberdaya Alam. Meskipun zaman telah silih berganti dan tantangan juga tak pernah henti, masyarakat tanimbar kei terbukti mampu mempertahankan adat sebagai warisan leluhur yang dihormati. 

Tulisan ini juga diterbitkan di Web DFW Indonesia

Jumat, 01 Mei 2015

Selamat Hari Pendidikan Nasional, Bu Khadijah



Sabtu, 02 Mei 2015. Entah sudah berapa kali bangsa ini memperingati hari Pendidikan Nasional. Entah sudah berapa lama pula berbagai masalah pendidikan menumpuk urung mendapat jalan keluar. 


Pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. pemertaan akses dan fasilitas, kualifikasi pendidik, carut-marut bongkar-pasang kurikulum hingga isu kebocoran soal Ujian Nasional masih kerap mengisi headline pemberitaan media kita.


Seorang guru honorer, di sebuah sekolah di pulau jawa sering bercerita kepada saya. Bukan, bukan perkara gajinya yang tidak seberapa. Melainkan tentang praktik kotor yang kian membudaya di sekolahnya. Berbagai manipulasi untuk mendongkrak nama sekolah ataupun pendapatan tenaga pendidik menyentak hati nuraninya. Berikut saya coba tuliskan kisahnya.


“Khadijah” -bukan nama sebenarnya- adalah seorang guru madrasah, beliau memutuskan mengabdi di madrasah untuk menggantikan ayahnya “Abdullah” yang kian menginjak usia senja. Madrasah tersebut adalah rintisan perjuangan pak Abdullah bersama rekan-rekannya. Hampir 40 tahun pak Abdullah mengabdi membesarkan madrasahnya. hingga beliau memutuskan berhenti, tak sepeserpun uang pensiun di dapatnya. Maklum meskipun lebih dari separuh umurnya dihabiskan untuk mengabdi, beliau bukanlah pegawai negeri.


Khadijah masuk madrasah dengan kondisi yang sudah sangat berbeda dibanding era ayahnya. Madrasah kini bisa lebih bernafas dengan suntikan dana BOS dan BSM. Untuk kesejahteraan tenaga pendidiknya, meskipun masih sangat jauh dibanding pegawai negeri setidaknya sudah ada tunjangan fungsional dan sertifikasi. Untuk seorang guru yang mengajar lebih dari 30 jam/pekan, Khadijah rata-rata bisa mendapat gaji 1 - 1,5 juta/bulan. Adapun rekan-rekannya yang sudah mendapat sertifikasi, untuk sesama tenaga honorer bisa mendapat 2,5 - 3 juta/bulan. Sedangkan pegawai negeri? Jauh lebih besar lagi bisa 4-5 juta/bulan. (Perhitungan gaji tersebut adalah pendapatan total. Gaji pokok + berbagai tunjangan).


Khadijah mengajar di sebuah madrasah yang terakreditasi A. cukup mentereng karena letaknya berada di desa. Khadijah pun masih belum bisa percaya mengapa madrasahnya bisa mendapat akreditasi A. -Dan kisah ini bermula- Khadijah bertutur, sebelum tim akreditasi datang meninjau madrasah, kepala madrasah telah terlebih dahulu bersilaturahmi ke rumah tim akreditasi, sambil membawa amplop tentunya apalagi kalau bukan untuk mendongkrak penilaian atas madrasahnya. And taraam.. akreditasi A pun terbit meskipun dari segi prestasi madrasah tersebut masih jauh dari unggul, jangankan pernah memenangkan perlombaan propinsi, tingkat kabupaten saja masih sekedar mimpi.


Menjelang UAMBN (Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional) tahun lalu, khadijah kembali bercerita. Bukan, bukan tentang kebocoran soal atau jawaban, di madrasahnya masih belum sampai tahap demikian. Dia mengeluhkan anak didiknya yang telah dibina sedemikian rupa, menjelang UAMBN justru dibreafing untuk saling kerjasama memberikan contekan. Lengkap dengan dengan tekniknya agar tidak diketahui pengawas. Guna memudahkan anak didik saling mencotek, kepala madrasah berkeliling ruangan untuk mengajak pengawas ngobrol bersama hingga sejenak lupa akan tugasnya.


Khadijah adalah satu beberapa guru di madrasahnya yang tidak pernah lagi mau menemani muridnya saat LT (Lomba tingkat) PRAMUKA. Pengalaman pertama menemani murid-muridnya justru membuatnya dipaksa untuk memberikan bocoran jawaban atas soal-soal LT. bocoran diberikan saat perjalanan dari POS satu menuju POS lainnya. Dan sudah menjadi rahasia umum, sekolah yang menempatkan wakilnya sebagai juri, pasti akan mendapat juara.


Beberapa bulan yang lalu, saya kembali bertemu khadijah. Dia mengeluh ingin berhenti dari madrasahnya. Dia bercerita tentang rekan-rekanya yang sudah mendapat sertifikasi namun bekerja sesuka hati. (Saya tidak tahu, mungkin dia iri atau karena memang karena tidak sesuai hati nurani). Dia bercerita tentang manipulasi jam mengajar yang disamaratakan 24 jam/orang guna kepentingan laporan dan mendapat tunjangan. Padahal faktanya dia mengajar lebih dari 30 jam, sedangkan rekannya yang sudah sertifikasi ada yang hanya mengajar 20, 18 bahkan 16 jam. 


Di madrasahnya jam belajar hanya sampai 12.30 atau 13.00, namun ketentuan bagi yang sudah mendapat sertifikasi harus pulang pukul 14.30. dan yang terjadi? Semuanya tetap pulang pukul 13.00 sedangkan bagi yang mendapat sertifikasi akan kembali lagi ke madrasah pukul 14.30 untuk sekedar mengisi absensi. Bagi yang lupa absensi? tenang semua bisa dimanipulasi. Melihat kenyataan tersebut khadijah pernah menanyakan kepada dinas pendidikan kabupaten. Namun apa latah, mereka justru memaklumi sambil berujar “tolong-menolong” istilahnya.


Khadijah kian resah, baginya salah satu esensi pendidikan adalah menanamkan nilai kejujuran. Akan seperti apa kelak anak didiknya jika di bangku sekolah justru diajari ketidakjujuran? Dan bagaimana mungkin kejujuran akan ditanamkan oleh pendidik yang tidak jujur?


Khadijah tidak menyerah, selepas aktivitas padatnya mengajar di madrasah, di sore hari dia membuka TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) di musholla kecil di samping rumahnya yang kini kian ramai dengan lebih dari 70 santri aktif. “TPA Ash-Shidqiyah” dia beri nama, berharap masih bisa membentengi anak-anak untuk meneladani salah satu sifat mulia Rasullullah SAW. As-Shidqiyah = Kejujuran.


Selamat Hari Pendidikan Nasional, Bu Khadijah. Semoga tetap istiqomah memperjuangkan nilai-nilai kejujuran.

Rabu, 14 Mei 2014

SIAPA BILANG NGELAMAR KERJA GAK PAKE BIAYA?



Beberapa bulan yang lalu saya iseng-iseng daftar kerjaan.. meskipun kualifikasi pendaftar minimal harus sudah S1 saya nekat aja daftar dengan jaminan selambat-lambatnya udah mengantongi Surat Keterangan Lulus (SKL) bulan juni. Alkisah gayung pun bersambut.. dari 800an pelamar saya lolos seleksi administrasi, kemudian dipanggil wawancara (3 kali wawancara) dan lolos untuk mengikuti seleksi tahap akhir. Meskipun pada akhirnya pada tes tahap terakhir ini saya belum beruntung tapi setidaknya banyak pengalaman dan pelajaran selama proses lamaran..

Saya jadi sadar bahwa pada akhirnya dunia kerja itu seperti hukum rimba, siapa yang terkuat dia yang akan dapat, tak peduli pada mereka yang sudah apply berkali-kali, tak peduli pada mereka yang sangat membutuhkan kerjaan, di dunia kerja gak ada yang namanya “kasihan” pada akhirnya kualitas diri yang akan membuktikan.. 

Melamar kerja seringkali merupakan ajang pertaruhan idealisme, passion dan cita-cita. namun pada akhirnya realita yang akan berbicara. Disela-sela seleksi saya sempet ngobrol-ngobrol dengan pencari kerja lainnya, beberapa diantara mereka ada yang awalnya melamar di perusahaan bonafit berharap dengan gaji yang tinggi. namun setelah ditolak berkali-kali pada akhirnya mereka tidak memikirkan lagi dimana akan berkerja, yang terpenting sekarang adalah bagimana mendapatkan kerja entah sesuai atau tidak dengan passionnya.

Sesuai dengan judulnya, pada kesempatan kali ini saya pengin menekankan bahwa mencari kerja juga butuh yang namanya “modal”. bukan cuma modal kapasitas dan kemampuan diri, tapi juga tentang modal finansial. Mencari kerja bukanlah kegiatan yang tidak memerlukan biaya, seringkali biaya tersebut sebenernya malah sudah cukup untuk membuat pekerjaan (berwirausaha).. Berikut beberapa gambaran kebutuhan untuk melamar kerja, biaya tersebut tergantung pada kebutuhan masing-masing.

Biaya Pokok (merupakan biaya yang dikeluarkan untuk keperluan yang dipakai berkali-kali, yang musti dipersiapkan diawal)
            Kemeja (standard)                  = Rp 115.000
            Baju dalem                              = Rp 30.000
            Celana Kain                            = Rp 135.000
            Sepatu Pantofel                       = Rp 200.000
            Dasi                                         = Rp 25.000
            Sabuk                                      = Rp 60.000
            Foto Studio                             = Rp 25.000
            Parfum, Pomade dll                = Rp 50.000
Total                                                   = Rp 640.000

Biaya Variabel (merupakan biaya yang sekali habis, harus dipersiapkan kembali jika dibutuhkan)
            Transportasi                             = 300.000
            Snack & Makan                      = 50.000
            Foto copy print                       = 20.000
            Perleng dokumen                    = 20.000
            Pulsa & Internet                      = 50.000
            Penginapan                              = 100.000
Total                                                   = 540.000

Total Biaya Pokok dan Varibel       = 1.180.000-, biaya tersebut dapat terus bertambah tergantung berapa kali proses seleksi ataupun berapa kali melamar kerja.

            Falsafah Jawa mengatakan “Jer Besuki Mawa Bea (setiap kesuksesan pasti perlu biaya), prinsip ekonomi mengatakan “keuntungan sebesar-besarnya harus dapat dieproleh dari pengorbanan yang sedikit-dikitnya”. Adalah pilihan bagi kita untuk melamar kerja maupun berwirausaha, yang pasti semuanya perlu “modal” yang harus dipersiapkan..
Serius banget sih.. pokoke semangat ya vroh.. :v